Tindak Pidana Dalam Keadaan Bencana, Itu Berat!

0
27
Ilustrasi Bencana
Ilustrasi Bencana

Bencana alam, akhir-akhir ini kerap melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Mulai dari gempa di Maluku, NTB, NTT, Bali hingga terakhir Tsunami di Selat Sunda yang menewaskan ratusan orang dan memporakporandakan berbagai bangunan yang ada di sekitar pantai.

Bukan hanya memakan korban jiwa, namun harta benda juga ikut ludes. Di tengah bencana yang melanda, ‘haram’ hukumnya jika ada yang memanfaatkan kesempatan untuk mencari keuntungan kepentingan pribadi terutama dengan cara mencuri.

Warga yang terkena musibah, mungkin tak lagi sempat berpikir tentang keadaan harta bendanya. Jangankan harta benda, mereka banyak yang masih disibukkan mencari sanak keluarga yang tidak diketahui rimbanya. Ada yang hingga kini masih hilang, ada pula yang sudah ketemu namun sudah menjadi mayat.

Kesedihan yang bertubi-tubi ini, tentu layak untuk mendapatkan simpati, bukan malah mencuri. Mereka yang mengais rejeki dengan cara haram ini, jika tidak kena azab langit, tentu akan terkena hukum pidana di dunia.

Bicara hukum langit, tentu itu biar jadi wilayah tuhan yang menentukannya. Bagaimana dengan hukum pidana? Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) sudah mengaturnya secara jelas.

Pencurian baik itu dilakukan dengan cara menjarah atau cara lainnya yang dilakukan pada saat terjadi bencana bukanlah jenis tindak pidana biasa.

Dalam KUHP, soal tindak pidana pencurian diatur dalam pasal 362 hingga Pasal 367. Namun, secara khusus KUHP sudah mengatur soal tindak pidana pencurian yang dilakukan dalam keadaan terjadi bencana, yakni pasal 363.

Berikut bunyi Pasal 363 KUHP, tentang pencurian dengan pemberatan:

(1) Diancam dengan Pidana paling lama tujuh tahun:
1. Pencurian Ternak;
2. Pencurian pada waktu terjadi kebakaran, letusan, banjir, gempa bumi atau gempa laut, gunung meletus, kapal karam,
kapal terdampar, kecelakaan kereta api, huru-hara, pemberontakan atau bahaya perang;
3. Pencurian pada waktu malam dalam sebuah rumah atau di pekarangan tertutup yang ada rumahnya, yang dilakukan oleh orang yang ada di situ tanpa diketahui atau tanpa dikehendaki oleh yang berhak;
4. Pencurian yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan bersekutu;
5. Pencurian yang untuk masuk ke tempat melakukan kejahatan, atau untuk dapat mengambil barang yang hendak dicuri itu,
dilakukan dengan merusak, memotong atau memanjat, atau dengan memakai anak kunci palsu, perintah palsu atau pakaian
jabatan palsu.
(2) Bila pencurian tersebut dalam angka 3 disertai dengan salah satu hal dalam angka 4 dan 5, maka perbuatan itu diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

Terbaca jelas pada ayat 1 angka ke 2 didefinisikan soal tindak pidana pencurian yang dilakukan pada waktu terjadi kebakaran, letusan, banjir, gempa bumi atau gempa laut, gunung meletus, kapal karam, kapal terdampar, kecelakaan kereta api, huru-hara, pemberontakan atau bahaya perang. Ancaman pidananya maksimal adalah 7 tahun.

R Soesilo dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana halaman 251 menerangkan soal pasal 363 ayat 1 angka ke 2. Ia menjelaskan, bila pencurian itu dilakukan pada waktu ada kejadian macam-macam malapetaka, seperti pencurian ini diancam hukuman lebih berat.

Karena pada waktu semacam ini orang-orang semua pada ribut dan barang-barang dalam keadaan tiak terjaga. Sedang orang yang mempergunakan saat orang lain mendapat celaka ini untuk berbuat kejahatan, adalah rendah budinya.

Ia juga menjelaskan, antara terjadinya malapetaka dengan pencurian itu harus ada hubungannya. Artinya, pencuri benar-benar mempergunakan kesempatan itu untuk mencuri.

Namun, kategori itu tidak termasuk misalnya seseorang mencuri dalam satu rumah dalam kota itu dan kebetulan saja pada saat itu dibagian kota ada terjadi kebakaran. Karena disini pencuri tidak sengaja memakai kesempatan yang ada karena kebakaran itu. (win)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here