Terseret Dugaan Pemalsuan, Pengusaha NTT Dijebloskan ke Penjara

1
544
FOS Mengenakan Rompi Orange Saat Pelimpahan Di Kejati NTT
Frans Oan Semewa mengenakan rompi orange saat pelimpahan berkas perkara di Kejati NTT

NTT. Pengusaha sukses Hotel Gardena, Frans Oan Semewa (FOS) alias OAN akhirnya dijebloskan dalam penjara Lembaga Pemasyaratan (LP) Ruteng, Manggarai, Flores-NTT oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) NTT tanggal 7 Februari 2019.

Oan berstatus sebagai tahanan titipan setelah terserat kasus dugaan tindakpidana pemalsuan sesuai Pasal 264 ayat(2) KUHP dan pasal 263 ayat (2) KUHP Junto Pasal 64 ayat (1) dan ayat (2) KUHP atas laporan Christian Natanael alias Chris alias Werly.

Dua kuasa hukum Werly, Denny Sambeka dan R. Yuwono memberikan apresiasi tinggi atas kinerja kedua lembaga penegak hukum yakni Polda NTT dan Kajati NTT yang dinilainya telah bekerja secara profesional.

“Polda dan Kejati NTT telah bekerja secara prefosional dalam menangani kasus hukum ini. Sekarang sudah ditahan dan kita siap membuktikan di persidangan nanti, ” ujar Denny Sambeka.

Sebenarnya, kasusu ini sudah terjadi setahun lalu. Sesuai laporan pelapor Christian alias Werly bernomor LP/B/165/IV/2018/SPKT Polda NTT,diduga menggunakan Akta Jual Beli (AJB) yang diduga palsu atas SHM 875 atas tanah seluas 19,479 m² berlokasi di Pulau Seraya Kecil, Kelurahan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar).

Proses penyidikan yang belangsung cukup lama. Bahkan, Oan sempat melakukan perlawanan hukum dengan melakukan gugatan pra peradilan atas penetapan dirinya sebagai tersangka oleh Polda NTT, pada 21 Agustus 2018.

Penetapan Tersangka

Sebelum ditetapkan menjadi tersangka, Penyidik Ditserse Polda NTT setelah melakukan penyidikan dengan memeriksa saksi korban (Christian alias Werly) dan 8 saksi lain (Hiro, Wahyudi, Hendrik, Yoseph, Max dan Yance) dan saksi ahli hukum pidana Prof.Dr.Nur Basuki Minarno, SH dari Unair Surabaya.

Dari keterangan saksi dan juga hasil Labfor cabang Denpasar (24/1/18) disimpulkan: Questioned Tanda tangan (QT) adalah NON IDENTIK dengan Known Tanda tangan (KT), atau kata lain tanda tangan atas nama WERLY yang terdapat pada AKTA JUAL BELI No.53/JB/KK/IV l998 tertanggal 22 April l998 tersebut pada Bab I A di atas dengan tanda tangan WERLY Pembanding, adalah merupakan tanda tangan yang berbeda.

Dengan terpenuhi unsur pidana Pasal 264 ayat (2) KUHP dan Pasal 263 ayat (2) KUHP, yakni dengan sengaja menggunakan surat palsu atau yang dipalsukan itu
seolah olah surat asli dan tidak dipalsukan, pemakaiannya dapat menimbulkan kerugian orang lain dengan ancaman pidana 8 tahun penjara.

Berdasarkan laporan Polisi Polda NTT (24/4/18) telah ditetapkan sebagai tersangka dan pada (21/8/18). Kemudian tanggal 23 November 2018, berkas perkara tersangka telah dikirimkan ke Kejaksaan Tinggi NTTdan tanggal (7/2/19) P 21 yakni penyerahan tersangka (ditahan) dan barang bukti ke Kejari Labuan Bajo.

“Ini membuktikan jika tidak ada orang kebal hukum. Kami akan mengawal kasus ini hingga tuntas,” ujar Denny Sambeka, kuasa hukum Welly.

Teman Menjadi Lawan

Sementara, Chris alias Werly (48) mengatakan kronologis awal kasus ini terjadi pada tahun pada tahun 1999. Saat itu, dirinya sedang mengalami kesulitan ekonomi hingga usahanya bangkrut.

Werly
Werly didampingi dua kuasa hukumnya

Singkat cerita, Werly meminjam uang kepada Frans Oan Semewa yang diakui sebagai teman dekat dengan menjaminkan tiga aset sertifikat tanah berlokasi di Pulau Seraya Kecil, Labuan Bajo – Mabar (SHM 875, 876 dan 878.

Karena mereka saling percaya sebagai teman, sewaktu penyerahan pinjaman uang dari Oan ke Werly maupun penyerahan sertifikat sebagai jaminan tidak disertai dengan kuitansi atau tanda terima apapun.

Setelah beberapa bulan jatuh tempo, Werly tidak bisa mengembalikan pinjaman, sehingga Oan mendesak Welly untuk menjual 2 dari 3 SHM/tanah yang digadaikan, yaitu SHM no.876 dan 878.

Awalnya, Welly sangat keberatan untuk menjual ke dua SHM tanah seluas total kurang lebih 4 ha tsb dengan
harga yang cuma 35 juta rupiah (sebesar hutang saja).

Namun akhirnya Welly menyetujui untuk menandatangani kuitansi tanda jual 2 SHM no.876 dan 878 kepada Oan setelah tejadi kesepakatan lisan.

Salah satunya, SHM no.875 tetap dipegang/dititip (tidak dijual) kepada FOS sebagai jaminan untuk
tambahan pinjaman sebesar 5 juta rupiah tanpa hitungan bunga.

Pinjaman tanpa bungaini juga sebagai salah satu syarat Werly kepada Oan agar mau menandatangani kuitansi jual beli SHM 876 dan 878.

Setelah terjadi kesepakatan lisan, Werly dengan FOS sudah hampir tidak ada saling kontak lagi. Werly sibuk bolak balik dari Labuan Bajo ke Surabaya, Bali dan Jakarta.

“Saya juga tidak mengetahui kapan dan bagaimana caranya mulai memproses balik nama SHM tersebut, ” ujar Werly.

Pada tahun 2005 Werly merantau ke New Zealand untuk mencari kerja dan baru balik ke Surabaya pada tahun 2009. Tahun 2010 secara kebetulan bertemu Oan di toko
daerah Jl.Kembang Jepun. Namun sama sekali tidak menyinggung soal tanah.

Tahun 2012, Oan datang ke Surabaya lagi dan menelpon Werly dengan menawarkan uang sebesar 50 juta rupiah kepada Werly asalkan mau menandatangani surat kuasa balik nama sebuah SHM yang sampai sekarang masih atas nama Werly.

Ketika Werly menanyakan SHM apa dan letak di
mana, FOS tidak memberikan jawaban yang memuaskan dan cenderung menutup-nutupi sehingga menimbulkan rasa curiga.

Setelah Werly mencari informasi dari istrinya dan dari fotocopy SHM yang sudah tersimpan puluhan tahun dalam lemari akhirnya membuka kembali memory bahwa SHM 875 tsb tidak dijual kepada Oan, melainkan cuma di jadikan jaminan pinjaman 5 juta tanpa bunga.

Setelah mengingat semuanya, werly meminta kembali SHM 875 tersebut tapi ditolak dengan alasannya bahwa dia sudah membeli dari Werly dan sudah dia balik
ke nama. Yang akhirnya berujung pada laporan di Polda NTT.

Yang membingungkan Werly, mengapa justru SHM 878 (yang ada kuitansinya), tidak dilakukan balik nama oleh Oan. “Justru SHM 875 yang tidak ada kuitansinya
yang bisa dia balik nama, ” ucap Werly. (tim)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here