Jalani Sidang Bersama Istri, Henry J. Gunawan Lepas Rompi Tahanan

0
16
Henry. J Gunawan
Henry. J Gunawan bersama istrinya menjalani sidang di PN Surabaya. (ist))

SURABAYA. Sempat diadili terkait perkara polemik Pasar Turi, Henry Jocosity Gunawan kembali duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis 3 Oktober 2019.

Kali ini, Bos besar PT Gala Bumi Perkasa (GBP) itu dijadikan terdakwa dalam perkara dugaan memberikan keterangan palsu pada akta otentik bersama istrinya Iuneke Anggraini.

Tanpa menggunakan rompi tahanan, keduanya duduk di kursi terdakwa menjalani sidang perdana dengan agenda pembacaan berkas dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakosa dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya.Dalam perkara ini, jaksa menjerat pasutri ini dengan pasal 266 ayat (1) KUHP Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

“Terdakwa Henry dan Iuneke telah melakukan, menyuruh memasukkan keterangan palsu ke dalam suatu akta otentik mengenai sesuatu hal yang kebenarannya harus dinyatakan oleh akta itu, dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai akta itu seolah-olah keterangannya sesuai dengan kebenaran, diancam, jika pemakaian itu dapat menimbulkan kerugian, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun,” beber jaksa membacakan isi pasal dalam berkas dakwaannya.

Menanggapi dakwaan jaksa, kedua terdakwa melalui tim penasehat hukumnya bakal mengajukan eksepsi (bantahan dakwaan) pada agenda sidang pekan depan. Selain itu, Masbuhin ketua tim penasehat hukum terdakwa juga menyampaikan permohonan pengalihan penahanan kedua terdakwa ke majelis hakim.

Dalam sidang yang digelar di ruang Garuda itu, kedua terdakwa diadili tanpa mengenakan rompi tahanan layaknya para terdakwa dalam perkara pidana yang lainnya. Awalnya rompi berwarna merah tersebut dikenakan Henry, namun tidak rapi  pada bagian lengan.

Oleh ketua majelis hakim Dwi Purwadi, Henry malah dipersilahkan untuk melepas rompi tahanan. “Silahkan kalau panas boleh dilepas saja,” ujar hakim Dwi Purwadi.

Tak menunggu lama akhirnya Henry yang mengenakan baju berwana gelap itu itu melepas rompi dan meletakan di samping kursi. Tindakan melepas rompi tahanan itu disusul istrinya yang sebelumnya sudah memakai secara benar.

Untuk diketahui, terdakwa Henry dan Iuneke dilaporkan ke Polrestabes Surabaya atas dasar dugaan memberikan keterangan palsu pada akta otentik bahwa Iuneke sebagai istri sebagaimana dituangkan dalam akta perjanjian pengakuan hutang No. 15 tanggal 6 Juli 2010 dan Akta Personal Guarantee No.16 tanggal 6 Juli 2010.

Ternyata, diduga kedua terdakwa baru melakukan perjanjian kawin di Vihara Buddhayana Surabaya pada tanggal 08 November 2011 dan dicatatkan pada Dinas Kependudukan Catatan Sipil Kota Surabaya berdasarkan Akta Perkawinan Nomor 3578-KW-12112011-0013 tanggal 09 November 2011.

Atas keterangan yang tidak benar tersebut, PT. GNS merasa dirugikan secara materiil maupun immateriil. Karena PT. GNS telah menyerahkan uang sebesar Rp.17.325.000.000,- dan hutang piutang ini terjadi sejak tanggal 06 Juli 2010. (gofar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here