Dilema Minyak Biji Ganja: Rindu yang Terlarang!

1
210
Minyak Ganja
Minyak Ganja (ft/gettyimages)

JAKARTA. Sebanyak 22 botol minyak biji ganja (hemp seed oil) kiriman dari Jerman baru saja disita Badan Narkotika Nasional (BNN). Dari hasil uji laboratorium, BNN menggolongkan minyak tersebut sebagai zat narkotika baru.

Namun, kedua pelaku pembelian paket minyak biji ganja itu, A dan AW tak bisa dijerat hukum. Sebab, senyawa yang terkadung dalam minyak biji ganja itu tidak masuk dalam lampiran Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Direktur Pemberantasan BNN Arman Depari menjelaskan minyak biji ganja tersebut diduga hasil ekstrak dari cannabis sativa yang di dalamnya terdapat senyawa cannabidiol dan dronabinol.

“Setelah dilakukan pemeriksaan di lab maka kita temukan bahwa hemp seed berupa botolan itu mengandung dua zat kimia yaitu cannabidiol dan dronabiol. Sayangnya kedua zat tersebut belum masuk UU narkotika,” ujar Arman dalam konferensi pers di kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur, Rabu 12 Desember 2018, seperti diliris antaranews.com.

Minyak Biji Ganja3
Minyak Biji Ganja3

Petugas mengendus pembelian paket minyak biji ganja itu dari laporan Bea Cukai dan Kantor Pos Pasar Baru. BNN kemudian melakukan pengecekan pada 21 November dan melakukan penyitaan.

Kedua pelaku kini hanya diminta wajib lapor ke pihak terkait, namun BNN berupaya memasukkan senyawa tadi sebagai zat terlarang yang diakui oleh UU agar mereka dapat menjerat kedua pelaku. “Itu yang sedang kita upayakan untuk menjerat mereka,” imbuh Arman.

Meski belum terdaftar sebagai senyawa terlarang, BNN yakin betul bahwa minyak biji ganja tergolong substansi haram teranyar yang menyebabkan dampak negatif terhadap kesehatan dan menimbulkan kecanduan. “Kita golongkan ini sebagai new psychoactive substances,” tegas Arman.

Mitos Kesehatan Hingga Kecantikan

Pro dan kontra tentang minyak biji ganja ini terjadi di berbagai belahan dunia. Ada yang sudah melegalkan, namun juga banyak yang melarang, termasuk di Indonesia.

Jual beli minyak biji ganja sudah terbuka secara online. Di Indonesia sendiri beberapa obat kencatikan, sudah melakukan promo prudok dari biji ganja, meski kandungannya ada berbagai varian.

Awal tahun lalu, New York Times mengulas tentang tren minyak biji ganja (CBD Oil). CBD ialah zat selain THC yang terdapat dalam ganja. Zat tersebut mulai digunakan dalam produk perawatan kulit. Sebagian fungsinya ialah meredam rasa sakit dan mengurangi kecemasan.

Di Amerika Serikat, Lord Jones adalah salah satu lini produk perawatan kulit yang sampai saat ini konsisten menjadikan CBD sebagai salah satu material produk. Produk tersebut diantaranya dikemas dalam bentuk body lotion. Situs Lord Jones memuat informasi tentang kandungan produk dengan cukup detail.

Di sana tertulis bahwa lotion berfungsi sebagai penyembuh dari rasa sakit di otot dan sendi, serta luka pada kulit. Produk ini salah satunya digunakan Karla Wlech, seorang celebrity stylist yang kerap mengaplikasikan lotion pada kaki kliennya saat mereka harus berjalan di karpet merah memakai sepatu hak.

Ildi Pekar, wanita yang bekerja di industri kecantikan berkata bahwa beberapa waktu belakangan ini ia menemukan peningkatan penjualan CBD facial oil. Ildi beranggapan di masa depan kepopuleran CBD oil bisa serupa dengan argan oil, minyak yang berasal dari tanaman endemik Maroko bernama argan (Argania spinosa).

Joyce Imahiyerobo-Ip, direktur dermatologi kosmetik dari South Sore Medical Center Massachusetts menyatakan studi tentang CBD masih kurang banyak dilakukan. Tetapi ia cukup percaya dengan hasil penelitian yang telah beredar.

“Sejumlah studi yang sudah ada menyebutkan bahwa CBD mengandung khasiat anti peradangan. Hal tersebut bisa berpengaruh pada anti penuaan. Ia juga mampu mencegah kulit kering,” katanya.

Matthew Herman, pencipta Kush, lilin aromaterapi dengan kandungan CBD, merasa dirinya tengah menyaksikan tren perubahan penggunaan ganja dari sisi bisnis. Jika dulu ganja identik dengan teler dan hanya bisa digunakan dengan cara diisap, sekarang penggunaan ganja bisa dengan beragam cara. Ganja, ujar Herman, sudah menjadi industri mewah.

Di Indonesia sendiri, sempat dihebohkan dengan aksi seorang ibu bernama Musnaini, 33 tahun, warga Pidie, Aceh. Selama dua tahun, dia memberikan rutin minuman minyak biji ganja kepada anaknya.

Itu dilakukan untuk membuktikan senyawa DHA (docosahexaenoic) yang terkandung dalam minyak ganja, tidak berbahaya. Selain itu diyakani fungsi DHA yang dapat memicu perkembangan otak bayi itu.

Tidak hanya Musaini, seorang pria bernama Fidelis Arie Sudewarto sempat menjadi viral pertengahan 2017 lalu. Pria asal Sanggau, Kalimantan Barat (Kalbar), menjadi viral atau buah bibir di dunia maya, lantaran kepemilikan tanaman ganja di rumahnya.

Bukan karena memiliki 39 batang ganja, tapi alasan dia menanam tanaman terlarang itu untuk obat sang istri, Yeni Riawati, yang mengidap penyakit langka, Syringomyelia atau munculnya kista di sumsum tulang belakang.

Fidelis kemudian ditangkap aparat Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sanggau, Februari 2017. Ia pun tak bisa lagi memberikan ekstrak ganja itu untuk mengobati istrinya.

Tanam Ganja
Fidelis saat mendatangi makam istrinya setelah menjalani hukuman penjara. (ft/ist)

Tepat pada Sabtu, 25 Maret 2017, atau 32 hari setelah ditahan, istri tercinta pun tak kuat melawan penyakit tersebut. Yeni meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) M Th Djaman, Kabupaten Sanggau.

Begitulah fakta dilema minyak biji ganja di Indonesia, terlarang tapi tak sedikit yang merindukan…!! (tom)

1 COMMENT

  1. coba pihak bnn jg mempelajari penelitian2 yg sdh dilakukan…jgn terlalu bernafsu memasukkan ke UU bahwa itu narkoba…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here